Bermigrasi ke Android Studio

Migrasi project ke Android Studio memerlukan adaptasi dengan struktur project, sistem build, dan fungsionalitas IDE yang baru. Jika Anda memigrasikan project Android dari Eclipse, Android Studio menyediakan fitur impor sehingga Anda dapat dengan cepat memindahkan kode yang ada ke project Android Studio dan file build berbasis Gradle. Untuk informasi selengkapnya, lihat Bermigrasi dari Eclipse.

Jika bermigrasi dari IntelliJ dan project Anda sudah menggunakan Gradle, Anda cukup membuka project yang ada dari Android Studio. Jika menggunakan IntelliJ, tetapi project Anda belum menggunakan Gradle, Anda perlu melakukan sedikit persiapan manual sebelum mengimpor project ke Android Studio. Untuk informasi selengkapnya, lihat Bermigrasi dari IntelliJ.

Dasar-dasar Android Studio

Berikut ini beberapa perbedaan utama yang perlu Anda perhatikan saat menyiapkan migrasi ke Android Studio.

Pengaturan project dan modul

Android Studio didasarkan pada IDE Intellij IDEA. Untuk menguasai dasar-dasar IDE, seperti navigasi, penyelesaian kode, dan pintasan keyboard, baca Mengenal Android Studio.

Android Studio tidak menggunakan ruang kerja, sehingga project yang terpisah akan terbuka di jendela Android Studio yang terpisah. Android Studio mengatur kode ke dalam project, yang berisi segala sesuatu yang menentukan aplikasi Android Anda, mulai dari kode sumber aplikasi hingga konfigurasi build dan kode pengujian. Setiap project berisi satu atau beberapa modul, yang memungkinkan Anda untuk membagi project ke dalam unit-unit fungsionalitas yang terpisah. Modul dapat dibuat, diuji, dan di-debug secara independen.

Untuk informasi selengkapnya tentang project dan modul Android Studio, baca Ringkasan project.

Sistem build berbasis Gradle

Sistem build Android Studio didasarkan pada Gradle dan menggunakan file konfigurasi build yang ditulis dalam sintaks Groovy untuk mempermudah pengayaan dan penyesuaian.

Project berbasis Gradle menawarkan banyak fitur penting untuk pengembangan Android, termasuk:

  • Dukungan untuk library biner (AAR). Anda tidak perlu lagi menyalin sumber library ke dalam project; cukup deklarasikan dependensi dan library akan otomatis didownload serta digabungkan ke dalam project Anda. Dukungan ini mencakup penggabungan resource, entri manifes, aturan pengecualian proguard, aturan lint kustom, dan sebagainya secara otomatis selama waktu build.
  • Dukungan untuk varian build. Misalnya, varian build memungkinkan Anda membuat aplikasi dalam berbagai versi (seperti versi gratis dan versi pro) dari project yang sama.
  • Penyesuaian dan konfigurasi build yang mudah. Misalnya, Anda dapat mengambil nama versi dan kode versi dari tag Git sebagai bagian dari build.
  • Gradle dapat digunakan dari IDE, tetapi dapat juga dari command line dan server continuous integration seperti Jenkins, sehingga build yang sama tersedia di mana saja, kapan saja.

Untuk informasi selengkapnya mengenai cara menggunakan dan mengonfigurasi Gradle, lihat Mengonfigurasi build.

Dependensi

Dependensi library di Android Studio menggunakan deklarasi dependensi Gradle dan dependensi Maven untuk library biner dan sumber lokal populer dengan koordinat Maven. Untuk informasi selengkapnya, baca Mengonfigurasi varian build.

Kode pengujian

Dengan Eclipse ADT, pengujian instrumentasi ditulis dalam project terpisah dan diintegrasikan melalui elemen <instrumentation> di dalam file manifes Anda. Android Studio menyediakan direktori androidTest/ dalam set sumber utama project agar Anda dapat menambahkan dan memelihara kode pengujian instrumentasi dengan mudah dalam tampilan project yang sama. Android Studio juga menyediakan direktori test/ di set sumber utama project untuk pengujian JVM lokal.

Bermigrasi dari Eclipse

Android Studio menawarkan fitur impor otomatis untuk project Android yang ada yang dibuat menggunakan Eclipse.

Prasyarat migrasi

Sebelum memigrasikan aplikasi dari Eclipse ke Android Studio, pelajari langkah-langkah berikut untuk memastikan project Anda siap dikonversi dan Anda memiliki konfigurasi fitur yang diperlukan di Android Studio:

Di Eclipse ADT:

  • Pastikan direktori utama Eclipse ADT berisi file AndroidManifest.xml. Selain itu, direktori utama tersebut harus memuat file .project dan .classpath dari Eclipse, atau direktori res/ dan src/.
  • Buat project Anda untuk memastikan ruang kerja terbaru dan perubahan project Anda disimpan dan disertakan ke dalam impor.
  • Komentari setiap referensi ke file library ruang kerja Eclipse ADT dalam file project.properties atau .classpath yang akan diimpor. Anda dapat menambahkan referensi ini dalam file build.gradle setelah proses impor. Untuk informasi selengkapnya, baca Mengonfigurasi build.
  • Ada baiknya Anda mencatat direktori ruang kerja, variabel jalur, dan peta jalur aktual apa pun yang dapat digunakan untuk menentukan jalur relatif yang belum terselesaikan, variabel jalur, dan referensi resource tertaut. Android Studio memungkinkan Anda menentukan jalur yang belum terselesaikan secara manual selama proses impor.

Di Android Studio:

  • Download Android Studio, jika belum. Jika sudah memiliki Android Studio, pastikan Anda menggunakan rilis stabil terbaru dengan mengklik Help > Check for Updates (di Mac, Android Studio > Check for Updates).
  • Catat semua plugin pihak ketiga yang Anda gunakan di Eclipse, karena Android Studio tidak memigrasikan plugin Eclipse ADT pihak ketiga mana pun. Anda dapat memeriksa ketersediaan fitur yang setara di Android Studio, atau mencari plugin yang kompatibel di repositori IntelliJ Android Studio Plugins. Gunakan opsi menu File > Settings > Plugins untuk mengelola plugin di Android Studio.
  • Jika ingin menjalankan Android Studio di belakang firewall, pastikan Anda mengatur setelan proxy untuk Android Studio dan SDK Manager. Android Studio memerlukan sambungan internet untuk sinkronisasi Setup Wizard, akses library pihak ketiga, akses ke repositori jarak jauh, inisialisasi dan sinkronisasi Gradle, serta update versi Android Studio. Untuk informasi selengkapnya, lihat Setelan proxy.

Mengimpor project Eclipse ke Android Studio

Anda harus menentukan cara mengimpor project Eclipse ADT yang ada sesuai strukturnya:

  • Jika Anda memiliki beberapa project terkait yang menggunakan ruang kerja yang sama di Eclipse ADT, impor project pertama sebagai project, lalu tambahkan project terkait berikutnya sebagai modul dalam project tersebut.
  • Jika project Eclipse ADT Anda berbagi dependensi dalam ruang kerja yang sama tetapi tidak terkait, impor project Eclipse ADT satu per satu ke Android Studio sebagai project terpisah. Android Studio mempertahankan dependensi bersama di seluruh project yang baru dibuat sebagai bagian dari proses impor.
  • Jika project Eclipse ADT Anda menyertakan library native (C/C++), lihat Menautkan Gradle ke library native untuk mendapatkan petunjuk cara menyertakan library native Anda sebagai dependensi build Gradle.

Mengimpor sebagai project:

  1. Jalankan Android Studio dan tutup semua project Android Studio yang terbuka.
  2. Dari menu Android Studio, klik File > New > Import Project.
    • Atau, dari layar Welcome, klik Import project (Eclipse ADT, Gradle, etc.).
  3. Pilih folder project Eclipse ADT dengan file AndroidManifest.xml, lalu klik Ok.

  4. Pilih folder tujuan dan klik Next.

  5. Pilih opsi impor dan klik Finish.
  6. Proses impor akan meminta Anda untuk memigrasikan semua library dan dependensi project ke Android Studio, serta menambahkan deklarasi dependensi ke file build.gradle. Lihat Membuat library Android untuk informasi selengkapnya tentang proses ini.

    Proses impor juga akan mengganti semua library sumber yang sudah populer, library biner, dan file JAR yang telah mengetahui koordinat Maven dengan dependensi Maven, sehingga Anda tidak perlu lagi mempertahankan dependensi ini secara manual. Opsi impor juga memungkinkan Anda memasuki direktori ruang kerja dan peta jalur aktual apa pun untuk menangani semua jalur relatif yang belum terselesaikan, variabel jalur, dan referensi resource tertaut.

  7. Android Studio akan mengimpor aplikasi dan menampilkan ringkasan impor project. Tinjau ringkasan tersebut untuk mendapatkan detail tentang restrukturisasi project dan proses impor.

Setelah mengimpor project dari Eclipse ADT ke dalam Android Studio, setiap folder modul aplikasi di Android Studio akan berisi set sumber lengkap untuk modul tersebut, termasuk direktori src/main/ dan src/androidTest/, resource, file build, dan manifes Android. Sebelum memulai pengembangan aplikasi, sebaiknya Anda menyelesaikan semua masalah yang ditampilkan dalam ringkasan impor project untuk memastikan proses restrukturisasi dan impor project diselesaikan dengan benar.

Mengimpor sebagai modul:

  1. Jalankan Android Studio dan buka project yang ingin Anda tambahi modul.
  2. Dari menu Android Studio, klik File > New > Import Module.
  3. Pilih folder project Eclipse ADT dengan file AndroidManifest.xml, lalu klik Ok.
  4. Ubah nama modul jika diinginkan, dan klik Next.
  5. Proses impor akan meminta Anda untuk memigrasikan semua library dan dependensi project ke Android Studio, serta menambahkan deklarasi dependensi ke file build.gradle. Untuk informasi selengkapnya tentang memigrasikan library dan dependensi project, lihat Membuat library Android. Proses impor juga akan mengganti semua library sumber, library biner, dan file JAR populer yang telah mengetahui koordinat Maven dengan dependensi Maven, sehingga Anda tidak perlu lagi mempertahankan dependensi ini secara manual. Opsi impor juga memungkinkan Anda memasuki direktori ruang kerja dan peta jalur aktual apa pun untuk menangani semua jalur relatif yang belum terselesaikan, variabel jalur, dan referensi resource tertaut.
  6. Klik Finish.

Memvalidasi project yang diimpor

Setelah menyelesaikan proses impor, gunakan opsi menu Build dan Run pada Android Studio untuk membuat project serta memverifikasi hasilnya. Jika project Anda tidak menghasilkan build dengan tepat, periksa setelan berikut:

  • Pastikan versi terinstal alat Anda cocok dengan setelan untuk project Eclipse dengan membuka SDK Manager (klik tombol Android SDK Manager di Android Studio atau Tools > SDK Manager). Android Studio mewarisi setelan SDK Manager dan JDK dari project Eclipse yang Anda impor.
  • Untuk memverifikasi setelan Android Studio lainnya, klik File > Project Structure dan periksa:

    • Di bagian SDK Location, pastikan Android Studio memiliki akses ke lokasi dan versi SDK, NDK, dan JDK yang benar.

    Catatan: Jika Anda menggunakan setelan default, Eclipse ADT menginstal Android SDK di User\user-name\android-sdks\ di Windows, dan di Users/user-name/Library/Android/sdk/ di Mac.

    • Di bagian Project, verifikasi versi Gradle, versi plugin Android, dan repositori terkait.
    • Di bagian Modules, verifikasi setelan aplikasi dan modul, seperti konfigurasi penandatanganan dan dependensi library.
  • Jika project Anda bergantung pada project lain, pastikan dependensi tersebut ditentukan dengan benar dalam file build.gradle di folder modul aplikasi. Untuk informasi selengkapnya tentang mendefinisikan dependensi, lihat Mengonfigurasi varian build.

Setelah Anda memeriksa setelan di atas, jika masih ada masalah tak terduga ketika Anda membuat dan menjalankan project di Android Studio, pertimbangkan untuk mengubah project Eclipse ADT serta memulai ulang proses impor.

Catatan: Mengimpor project Eclipse ADT ke Android Studio akan membuat project Android Studio baru dan tidak memengaruhi project Eclipse ADT yang ada.

Bermigrasi dari IntelliJ

Jika project IntelliJ Anda menggunakan sistem build Gradle, Anda dapat otomatis mengimpor project langsung ke Android Studio. Jika project IntelliJ Anda menggunakan Maven atau sistem build lain, Anda perlu menyiapkannya agar dapat difungsikan dengan Gradle sebelum memigrasikan project ke Android Studio.

Mengimpor project IntelliJ berbasis Gradle

Jika sudah menggunakan Gradle pada project IntelliJ, Anda dapat membukanya di Android Studio. Caranya:

  1. Klik File > New > Import Project.
  2. Pilih direktori project IntelliJ Anda, dan klik OK. Project Anda akan terbuka di Android Studio.

Mengimpor project IntelliJ non-Gradle

Jika project IntelliJ Anda belum menggunakan sistem build Gradle, ada dua opsi untuk mengimpornya ke Android Studio:

Bermigrasi dengan membuat project baru yang kosong

Untuk memigrasikan project Anda ke Android Studio dengan membuat project baru yang kosong, lalu menyalin file sumber ke direktori baru, lakukan seperti berikut:

  1. Buka Android Studio, lalu klik File > New > New Project.
  2. Masukkan nama untuk project aplikasi Anda dan tentukan lokasi pembuatannya, lalu klik Next.
  3. Pilih faktor bentuk yang akan menjalankan aplikasi Anda, lalu klik Next.
  4. Klik Add No Activity, lalu klik Finish.
  5. Di jendela alat Project, klik panah untuk membuka menu drop-down tampilan, dan pilih tampilan Project untuk melihat serta menjelajahi susunan project Android Studio baru Anda. Untuk membaca lebih lanjut cara mengubah tampilan dan cara Android Studio menyusun project, lihat File Project.
  6. Buka lokasi yang dipilih untuk project baru Anda dan pindahkan kode, pengujian unit, pengujian instrumentasi, dan resource dari direktori project lama ke lokasi yang benar dalam struktur project baru.
  7. Di Android Studio, klik File > Project Structure untuk membuka dialog Project Structure. Pastikan modul aplikasi Anda dipilih di panel kiri.
  8. Buat perubahan apa pun yang diperlukan pada tab Properties untuk project Anda (misalnya, mengubah minSdkVersion atau targetSdkVersion).
  9. Klik Dependencies dan tambahkan library apa pun yang menjadi dependensi project Anda sebagai dependensi Gradle. Untuk menambahkan dependensi baru, klik Add , lalu pilih jenis dependensi yang ingin Anda tambahkan dan ikuti petunjuknya.
  10. Klik OK untuk menyimpan modifikasi.
  11. Klik Build > Make Project untuk menguji pembuatan project Anda, dan selesaikan error yang ada.

Bermigrasi dengan membuat file build Gradle kustom

Untuk memigrasikan project Anda ke Android Studio dengan membuat file build Gradle baru untuk mengarahkan ke file sumber yang ada, lakukan seperti berikut:

  1. Sebelum mulai, pastikan untuk mencadangkan project Anda di lokasi terpisah, karena proses migrasi akan mengubah konten project Anda langsung di tempatnya.
  2. Selanjutnya, buat file di direktori project Anda dengan nama build.gradle. File build.gradle akan berisi semua informasi yang diperlukan Gradle untuk menjalankan build Anda.

    Secara default, Android Studio mengharapkan project Anda disusun seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.

    Gambar 1. Struktur project default untuk modul aplikasi Android.

    Karena project IntelliJ Anda tidak menggunakan struktur yang sama, file build.gradle harus mengarahkan direktori sumber untuk build tersebut ke folder yang ada (misalnya res/ dan src/), bukan ke struktur direktori baru default. Contoh file build.gradle berikut mencakup konfigurasi dasar untuk build Gradle, dan juga blok sourceSets{} di dalam blok android{} untuk menentukan direktori sumber yang benar, dan memindahkan pengujian serta jenis build untuk menghindari konflik penamaan. Salin blok kode di bawah ini ke file build.gradle dan buatlah perubahan apa pun yang diperlukan agar berfungsi dengan konfigurasi project yang ada. Misalnya, Anda mungkin perlu menyertakan dependensi tambahan, menggunakan versi SDK target yang berbeda, atau menentukan lokasi yang berbeda untuk direktori sumber.
        // This buildscript{} block configures the code driving the build
        buildscript {
           /**
            * The nested repositories{} block declares that this build uses the
            * jcenter repository.
            */
            repositories {
                jcenter()
            }
    
           /**
            * This block declares a dependency on the 3.6.0 version
            * of the Gradle plugin for the buildscript.
            */
            dependencies {
                classpath 'com.android.tools.build:gradle:3.6.0'
            }
        }
    
        /**
         * This line applies the com.android.application plugin. Note that you should
         * only apply the com.android.application plugin. Applying the Java plugin as
         * well will result in a build error.
         */
        apply plugin: 'com.android.application'
    
        /**
         * This dependencies block includes any dependencies for the project itself. The
         * following line includes all the JAR files in the libs directory.
         */
        dependencies {
            compile fileTree(dir: 'libs', include: ['*.jar'])
            // Add other library dependencies here (see the next step)
        }
    
        /**
         * The android{} block configures all of the parameters for the Android build.
         * You must provide a value for at least the compilation target.
         */
        android {
            compileSdkVersion 28
    
            /**
            * This nested sourceSets block points the source code directories to the
            * existing folders in the project, instead of using the default new
            * organization.
            */
            sourceSets {
                main {
                    manifest.srcFile 'AndroidManifest.xml'
                    java.srcDirs = ['src']
                    resources.srcDirs = ['src']
                    aidl.srcDirs = ['src']
                    renderscript.srcDirs = ['src']
                    res.srcDirs = ['res']
                    assets.srcDirs = ['assets']
                }
    
                // Move the tests to tests/java, tests/res, etc...
                instrumentTest.setRoot('tests')
    
               /**
                * Move the build types to build-types/<type>
                * For instance, build-types/debug/java, build-types/debug/AndroidManifest.xml, ...
                * This moves them out of them default location under src/<type>/... which would
                * conflict with src/ being used by the main source set.
                * Adding new build types or product flavors should be accompanied
                * by a similar customization.
                */
                debug.setRoot('build-types/debug')
                release.setRoot('build-types/release')
             }
        }
        
    Untuk informasi selengkapnya tentang menyiapkan dan menyesuaikan file build Gradle, baca Mengonfigurasi build.
  3. Berikutnya, identifikasi project library mana yang Anda gunakan. Dengan Gradle, Anda tidak perlu lagi menambahkan library ini sebagai project kode sumber. Anda dapat merujuk ke library tersebut di blok dependencies{} file build. Selanjutnya, sistem build akan menangani library ini secara otomatis, termasuk mendownload library, menggabungkan resource, dan menggabungkan entri manifes. Contoh berikut menambahkan pernyataan deklarasi untuk layanan Google Play dan sejumlah support library ke blok dependencies{} yang ditampilkan dalam contoh file build di atas.
        ...
        dependencies {
            compile fileTree(dir: 'libs', include: ['*.jar'])
    
            // Google Play Services
            compile 'com.google.android.gms:play-services:9.8.0'
    
            // Support Libraries
            compile 'com.android.support:appcompat-v7:28.0.0'
            compile 'com.android.support:cardview-v7:28.0.0'
            compile 'com.android.support:design:28.0.0'
            compile 'com.android.support:gridlayout-v7:28.0.0'
            compile 'com.android.support:leanback-v17:28.0.0'
            compile 'com.android.support:mediarouter-v7:28.0.0'
            compile 'com.android.support:palette-v7:28.0.0'
            compile 'com.android.support:recyclerview-v7:28.0.0'
            compile 'com.android.support:support-annotations:28.0.0'
            compile 'com.android.support:support-v13:28.0.0'
            compile 'com.android.support:support-v4:28.0.0'
    
            // Note: these libraries require the "Google Repository" and "Android Repository"
            //       to be installed via the SDK manager.
        }
        
    Untuk membantu menentukan pernyataan deklarasi yang benar bagi library Anda, Gradle, please dapat memberi Anda pernyataan deklarasi yang benar berdasarkan Maven Central.
  4. Simpan file build.gradle Anda, lalu tutup project di IntelliJ. Buka direktori project Anda, dan hapus direktori .idea serta semua file .iml di dalam project Anda
  5. Jalankan Android Studio, dan klik File > New > Import Project.
  6. Temukan direktori project Anda, klik file build.gradle yang Anda buat di atas untuk memilihnya, lalu klik OK untuk mengimpor project Anda.
  7. Klik Build > Make Project untuk menguji file build Anda dengan membuat project dan selesaikan semua error yang Anda temukan.

Langkah berikutnya

Setelah memigrasikan project Anda ke Android Studio, pelajari lebih lanjut cara membuat project menggunakan Gradle dan menjalankan aplikasi di Android Studio dengan membaca Membuat dan menjalankan aplikasi Anda.

Bergantung pada project dan alur kerja Anda, ada baiknya juga Anda membaca lebih lanjut cara menggunakan kontrol versi, mengelola dependensi, menandatangani dan mengemas aplikasi, atau mengonfigurasi dan mengupdate Android Studio. Untuk mulai menggunakan Android Studio, baca Mengenal Android Studio.

Mengonfigurasi kontrol versi

Android Studio mendukung berbagai sistem kontrol versi, termasuk Git, GitHub, CVS, Mercurial, Subversion, dan Google Cloud Source Repositories.

Setelah mengimpor aplikasi Anda ke Android Studio, gunakan opsi menu Android Studio VCS untuk mengaktifkan dukungan VCS bagi sistem kontrol versi yang diinginkan, membuat repositori, mengimpor file baru ke kontrol versi, dan melakukan operasi kontrol versi lainnya:

  1. Dari menu Android Studio VCS, klik Enable Version Control Integration.
  2. Pilih sistem kontrol versi yang ingin dikaitkan dengan root project dari menu drop-down, lalu klik OK. Menu VCS sekarang menampilkan sejumlah opsi kontrol versi berdasarkan sistem yang Anda pilih.

Catatan: Anda juga dapat menggunakan opsi menu File > Settings > Version Control untuk menyiapkan dan mengubah setelan kontrol versi.

Untuk informasi selengkapnya tentang menggunakan Kontrol Versi, lihat Referensi Kontrol Versi IntelliJ.

Android Support Repository dan Google Play Services Repository

Sementara Eclipse ADT menggunakan Android Support Library dan Library layanan Google Play, Android Studio mengganti library tersebut selama proses impor dengan Android Support Repository dan Google Repository untuk mempertahankan fungsionalitas yang kompatibel serta mendukung fitur-fitur Android baru. Android Studio menambahkan dependensi ini sebagai dependensi Maven menggunakan koordinat Maven yang diketahui, sehingga dependensi tersebut tidak memerlukan update manual.

Pada Eclipse, untuk menggunakan Support Library, Anda harus mengubah dependensi classpath project dalam lingkungan pengembangan Anda untuk setiap Support Library yang ingin Anda gunakan. Di Android Studio, Anda tidak perlu lagi menyalin sumber library ke dalam project; cukup deklarasikan dependensi dan library tersebut akan otomatis didownload serta digabungkan ke dalam project Anda. Dukungan ini mencakup penggabungan resource, entri manifes, aturan pengecualian proguard, dan aturan lint kustom secara otomatis selama waktu pembuatan. Untuk informasi selengkapnya tentang dependensi, lihat Mengonfigurasi varian build.

Penandatanganan aplikasi

Jika aplikasi Anda menggunakan sertifikat debug pada Eclipse ADT, Android Studio akan terus merujuk sertifikat tersebut. Jika tidak, konfigurasi debug akan menggunakan keystore debug yang dihasilkan Android Studio dan kunci default, masing-masing dengan sandi yang diketahui, yang terletak di $HOME/.android/debug.keystore. Jenis build debug ini disetel agar otomatis menggunakan konfigurasi debug ini saat Anda menjalankan atau men-debug project dari Android Studio.

Ketika membuat aplikasi untuk dirilis, Android Studio menerapkan sertifikat rilis yang digunakan pada Eclipse ADT. Jika tidak ada sertifikat rilis yang ditemukan selama proses impor, tambahkan konfigurasi penandatanganan rilis ke file build.gradle atau gunakan opsi menu Build > Generate Signed APK untuk membuka Generate Signed APK Wizard. Untuk informasi selengkapnya tentang menandatangani aplikasi, lihat Menandatangani aplikasi.

Menyesuaikan ukuran heap maksimum Android Studio

Secara default, Android Studio memiliki ukuran heap maksimum 1280 MB. Jika Anda mengerjakan project besar, atau sistem memiliki banyak RAM, Anda bisa meningkatkan performa dengan meningkatkan ukuran heap maksimum.

Update software

Update Android Studio berjalan terpisah dari plugin Gradle, fitur build, dan fitur SDK. Anda dapat menentukan versi mana yang ingin digunakan bersama Android Studio.

Secara default, Android Studio menyediakan update otomatis setiap kali versi stabil baru dirilis, tetapi Anda dapat memilih untuk mengupdate lebih sering dan juga menerima versi pratinjau atau beta.

Untuk mengetahui informasi selengkapnya mengenai cara mengupdate Android Studio serta menggunakan versi pratinjau dan beta, lihat Selalu menggunakan versi terbaru.